Minggu, 05 Juni 2011

Apa dan Bagaimana Juz

APA DAN BAGAIMANA JUZ
Membahas serta mempelajari sifat atau karakter manusia memang mengasyikan & tidak ada habisnya. Upaya manusia mengenal dirinya sudah dimulai sejak ribuan tahun silam. Dimulai dari bangsa China kira-kira tahun 2000 SM. Mereka sudah mengenal perwatakan manusia yang disimbolisasikan pada binatang, atau dengan istilah Shio.
Eropa pun tak mau ketinggalan ia mempelajari kedudukan & posisi bintang, ditemukan oleh Galileo Galilei.
Shio dan Horoskop atau Zodiak bukan merupakan barang baru dan banyak disukai orang. Al-Qur’an bisa menjadi rujukan untuk mengenal dan mempelajari karakter manusia. Hal ini sangatlah dimaklumi, mengingat banyaknya metode dan bidang ilmu untuk mempelajari dan mendalami Al-Qur’an.
Juz merupakan fitrah manusia yang tak bisa ditawar, memilih atau merubah Juz kita menjadi Juz tertentu. Dengan kata lain Juz bukan cocok atau tidaknya dengan seseorang.
Juz adalah variabel Al-Qur’an yang terbesar yang memuat semua variabel diatas, memang riwayatnya Juz dibuat dalam rangka mempermudah pengelompokan dalam membaca AL-Qur’an yang angka-nya disesuaikan dengan jumlah hari dalam bulan Ramadhan (ikmal) terkait dengan budaya tadarus dalam bulan tersebut. Tapi dibalik itu temyata ada hikmah (rahasia) keilmuan yang telah terbukti secara empiris.
Disetiap awal Juz (disisi) Al-Qur’an selalu terdapat kata Al-Juz  Mari kita definisikan kata Al-Juz 
31 + 5 + 11 + 29 =  76 (Alif lam + Jim + Za + Hamzah ) = 76
Dikorelasikan ke surah 76 Al-Qur’an adalah Ad Dahri atau Al Insan yang artinya Manusia. Inilah rumus dasar mengapa manusia memiliki Juz dalam Al-Qur’an
Al-Qur’an Menjelaskan Segala Sesuatu.
Difirmankan dalam Q S.An Nahl (16) : 89.
“….. dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri”.
Dalam Al-Qur’an diberikan kemudahan, seperti dijelaskan QS. AI Muzzammil (73) : 20
“. .. Maka bacalah (bagian mana saja) dan Al’qur’an yang mudah bagimu…”.
Allah memerintahkan manusia untuk mengkaji dan memahami isinya, seperti dijelaskan pada QS.Al-Qomar (54) : 17
“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan AI-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?”.
Kemudian diwujudkan dalam perilaku sehari-hari. Wajarlah jika Nabi Muhammad SAW dalam khutbahnya mengatakan bahwa kita umatnya tidak akan tersesat apabila berpegang teguh (mengamalkan) 2 hal, salah satunya adalah Al-Qur’an.
Dalam mempelajari Al-Qur’an dan mengetahui metodologi, diperlukan ilmu khusus yang kesemuanya terangkum dalam induk Ulumul Qur’an (ilmu-ilmu Al-Qur’an). Adapun kajian khusus salah satunya cabang ilmu-ilmu Al-Quran yaitu ilmu Munasabah, yaitu mempelajari hubungan ayat satu dengan ayat dalam satu surah atau surah lainnya. Munasabah surah dengan surah, munasabah ayat dengan surah, awal surah dengan akhir surah pada surah yang sama atau surah yang lain yang semuanya mengacu pada kajian verbal.
Komponen Al-Qur’an
Kalau kita amati dan kaji secara mendalam yang mengacu standar format struktur Al-Qur’an merujuk pada format Al-Qur’an 18 baris, cetakan PT. TAJ COMPANY KARACHI PAKISTAN, bahwa setiap variabel dalam Al-Qur’an mempunyai korelasi (hubungan) yang tidak dapat dipisahkan.
MANZIL                                   : 7
JUZ                                          : 30
SURAH                                                : 114
AYAT                                       : 6236
HALAMAN                              : 484 (DARI HAL 2 S/D 485)
TAINDA RUKU (‘AIN)              : 558
HALAMAN PER-JUZ                : 16 (Kecuali Juz 1 = 14 Hal & Juz 30 = 21 hal)
HURUF                                     : 32 (31 = ﺍﻞ, DAN 32 = )
ANGKA                                    : 1 – 9 Dan 0
Hal ini sering menjadi pertanyaan banyak orang yang ingrn mengetahui apa dan bagaimana cara menemukan juz diri. Perlu diperhatikan tingkat kepekaan manusia berbeda-beda. Bukan berarti bila kita membaca juz tetapi tidak merasakan efek tertentu dalam tubuh, lantas kita berkesimpulan bahwa cara membaca kita salah atau juz yang dibaca bukan merupakan juz kita.
Memang bisa saja juz yang kita baca bukan merupakan juz pribadi kita. Oleh karenanya disarankan untuk ber-tadarus guna mencari jati diri kita dalam Al-Quran melalui juz. Selain itu mengkoreksinya apakah juz kita salah atau benar melalui karakter juz buku “Psikologi Al-Quran” atau “Tirai Juz’. Karena dipaparkan dengan jelas parameter dan psikologi diri manusia dalam juz tersebut.
Harus dipahami juga bahwa tidak selamanya membaca juz akan memberikan dampak langsung kepada tubuh, misalnya mual, pusing, demam atau efek lainnya.
Dalam diri kita, selain fisik, ada unsur lain yaitu psikis atau kejiwaan. Untuk diketahui, tidak sedikit orang orang yang sudah membaca juznya namun tidak merasakan spontan apapun seperti orang lain.
Meskipun tidak merasakan efek spontan sebagian besar dari mereka mengalami perubahan atau manfaat secara psikis. Mulai dari ketenangan batin sampai meningkat kesabaran dan semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Tips Menemukan Juz Diri / Efektifitas Membaca Al-Qur’an.
  1. Bagi anda yang ingin mengetahui juz diri melalui tadarus adalah langkah yang paling tepat dan objektif. Namun anda juga harus mengetahui “tanda-tanda’ apakah juz yang dibaca merujuk pada juz kita atau tidak.
Diantara tandanya antara lain :
  • Tidak ada sebab yang jelas tiba-tiba timbul perasaaan tertentu dalam diri kita. Misalnya, sedih yang belum pernah dirasakan sebelumnya atau kegembiraan yang luar biasa. Ini bisa menjadi indikasi awal bahwa juz itu adalah juz anda.
  • Mengalami sakit pada bagian tertentu dalam tubuh kita selama membaca juz tertentu. Namun harus  dipahami bahwa sakit itu bukan kondisi mutlak bahwa anda telah menemukan juz anda. Bisa saja, sakit pada bagian tubuh selama tadarus merupakan masalah yang sedang anda hadapi. Untuk menganalisanya, anda bisa menterjemahkan nya tanda ‘Ain pada halaman dimana anda merasakan sakit. Kaji setiap variabel yang ada sehingga anda mendapatkan penafsiran yang lengkap.
  • Susah sekali membaca, cenderung mengulang-ngulang bacaan (lafadz)ketika membaca juz tertentu. Atau sebaliknya dengan mudah anda mudah membaca juz itu.
  • Munculnya “tanda-tanda” tertentu pada Al-Quran. Misalnya, huruf – huruf yang mengeluarkan cahaya atau sinar atau ayat – ayat itu membentuk tiga dimensi (biasanyat terjadi pada seseorang yang memiliki kepekaan istimewa).
  • Atau huruf-huruf yang anda baca tiba-tiba menghilang dan yang terlihat hanya lembaran kertas tak bertulis.Tanda-tanda itu relatif, tidak bersifat mutlak dan tidak semua orang dapat mengalaminya.
  1. Selama bertadarus, hilangkan pemikiran yang macam-macam atau subjektif, sehingga anda tidak terjebak pada juz tertentu. Berfikirlah bahwa apa yang anda kerjakan merupakan suatu bentuk ibadah.
  2. Bertadaruslah secara konsisten setiap hari dan usahakan tidak ada hari yang terlewat.
  3. Jangan mudah putus asa. Bila anda zudah selesai menghatamkan tadarus 30 iuz dan belum menemukan juz diri, ulangi lagi bertadarus. Namun pada bertadarus berikut anda harus membaca dengan tenang dan mengamati huruf demi huruf dengan cermat. Jika memungkinkan, bacalah sesuai tajwid dan qiro’at-nya.
  4. Dalam rangka membaca juz untuk mencari juz pribadi, dianjurkan tidak membaca ta’awwudz dan basmallah. Begitu juga basmallah yang menjadi pembatas antar surat, anda tidak perlu membacanya.
  5. Bila anda sudah menemukan juz, namun ada 2 (dua) atau lebih, maka pahami karakter juz tersebut melalui karakter masing-masing juz tersebut. Bila perlu, bertadarus lagi. Karakter juz dapat anda baca pada buku “Psikologi Al-Quran” atau “Tirai Juz” . Cocokan mana juz yang sesuai dengan pribadi anda.
  Tips Memaksimalkan Membaca Juz Diri & Pola Bacaan.
  1. Sempatkan untuk berwudhu sebelum membaca Al-Quran, namun bila tidak sempat atau tidak memungkinkan, tidak membatalkan bacaan kita.
  2. Sebelum membaca juz atau pola bacaan niatkan dalam diri bahwa apa yang anda lakukan semata,-mata ibadah dan mengharapkan ridho Allah SWT agar memberikan yang terbaik bagi anda. Jangan merasa terbebani dengan target yang ingin anda raih dengan bacaan yang sedang anda amalkan.
  3. Selama membaca hilangkan pemikiran bahwa setelah anda selesai membaca Al-Quran (juz atau pola bacaan) akan menjadi ini atau itu, bisa ini atau bisa itu atau masalah anda akan cepat selesai.
  4. Tabah dan lkhlas. Setelah anda membaca juz atau pola bacaan, tapi belum menampakan perubahan anggaplah itu suatu ujian yang harus anda lalui, tidak perlu menghardik atau bahkan tidak mau lagi membaca Al-Quran (juz atau pola bacaan) Naudzubillah min dzalik. Mungkin saja Allah SWT sedang menguji ketabahan dan keikhlasan anda dalam beribadah.
  5. Teratur membaca juz pribadi atau pola bacaan meski anda tidak merasakan efek spontan dari membaca juz atau pola bacaan. Sebab bacaan yang telah anda baca akan mengendap dalam diri sampai suatu saat akan berguna bagi anda.
  6. Jangan “mengkultuskan” juz atau pola bacaan. Artinya setiap kali anda menghadapi masalah atau sakit, jangan tergantung bahwa anda harus membaca pola bacaan ini atau itu. Bila anda rajin membaca juz, tadarus dan pola bacaan, anda bisa menemukan apa yang harus anda lakukan.
  7. Jangan terburu-buru ingin cepat selesai selama mengamalkan juz atau pola bacaan.
  8. Rileks-kan fikiran dan tubuh anda. Kadang kala pola bacaan yang panjang sekali, sehingga merasa kelelahan. Cari tempat yang nyaman selama membaca. Misalnya duduk di tempat duduk yang empuk atau tempat tidur (selama tempat itu tidak terkena najis). Tidak usah takut untuk menggerakan badan. Misalnya menepuk nyamuk, meluruskan tangan atau kaki, memutar kepala, bahkan bila capek duduk, anda bisa berdiri sejenak (misalnya 30 detik), kemudian melanjutkan lagi (tidak usah mengulang dari 3 ayat lagi sebelumnya).
  9. Bagi yang sudah berhasil mengatasi masalahnya atau sembuh dari sakit dengan membaca juz atau pola bacaan, jangan menghentikan membaca juz atau pola bacaan yang lain (misalnya pola 45 halaman, 59 halaman, manzil dan lain-lain).Tetapi rutin mengamalkannya, meski tidak harus seminggu sekali (minimal sebulan sekali). Ibaratnya, seperti program maintenance (perawatan), sebab kita tidak tahu apa yang akan terjadi kemudian hari.
 Lebih Jauh Cara Menemukan Juz ?
  1. 1.        Metode Manual
Yaitu dengan membaca Al-Qur’an dari Juz 1 sampai Juz 30 (pola tadarus). Jika cara ini dilakukan secara tepat dan benar, Insya Allah seseorang dapat merasakan sinyal-sinyal atau sesuatu yang sifatnya spiritual atau “ganjil” ketika membaca Juz tertentu. Dari data empiris, diketahui bahwa sinyal yang dapat dirasakan seseorang ketika membaca Al- Qur’an per-Juz dengan sistem tadarus tidak sama atau berbeda-beda, mengingat kepekaan spiritual setiap orang berbeda.
Adakalanya, seseorang merasakan berat membaca Juz tertentu kendati ia sudah lancar membaca Al-Quran. Atau bisa juga merasakan mudah dan enjoy saat membaca Al- Qur’an pada Juz tertentu, atau bahkan ada fenomena berupa ayat yang hilang dalam pandangannya.
Dalam beberapa kasus, ada yang jusru merasakan sinyal setelah selesai membaca Al- Qur’an pada Juz tertentu, mereka merasakan kondisi kesehatan menjadi sehat-bugar atau prima, dimana tidak ia rasakan saat atau setelah membaca Juz lain.
Jika seseorang telah mampu menangkap dan merasakan salah satu sinyal diatas, maka langkah berikutnya adalah menggunakan parameter-parameter berikut ini untuk mendukung akurasi bahwa ia membawa karakter Juz tersebut, antara lain :
  1. a.         Deteksi Kata Awal Juz (huruf tebal pada awal Juz).
Artikan huruf-huruf berdasarkan maknanya, kemudian rangkai menjadi sebuah kalimat.
  1. b.        Deteksi Surah.
Artikan atau interprestasikan (makna/karakter) surat tersebut merujuk pada karakter Anda.
  1. c.         Deteksi Tanda ‘Ain (tanda ruku’).
Untuk belajar dengan metode pendeteksian menggunakan tanda’Ain, kita harus paham betul mengartikan angka yang tertera pada tanda ‘Ain tersebut.
  1. 2.        Metode tuning
Yaitu dengan membuka Juz seseorang melalui getaran metafisik (elektromagnetik : gelombang panas tubuh, eter). Hal inilah merupakan klarifikasi terhadap anggapan bahwa Juz seseorang didapat dari tanggal dan bulan kelahiran.
Analoginya, seperti ketika kita mencari mencari frekwensi atau gelombang televisi/ radio . Masing-masing memiliki frekwensi gelombang sendiri-sendiri. Untuk sampai ke pesawat televisi/radio tidak ada kabel yang menghubungkan, namun televisi/radio dirumah kita yang berjarak puluhan bahkan ratusan kilometer mampu menangkap apa yang sedang dipancarkan oleh stasiun tersebut.
Sebagai konsekwensinya cara ini memerlukan konsentrasi tinggi dan energi yang besar dari si pembuka Juz. Sebagaimana televisl/radio memerlukan energi, yang merupakan sumber utama bagi televisi/radio. Dengan kata lain, bagi si pembuka Juz harus dalam kondisi prima.
Salah satu manfaat dari bertadarus, kita akan “mem-format” diri kita untuk mengenali bentuk energi dari setiap Juz-nya. Hal ini karena tidak ada satu Juz-pun yang sama (antara juz yang satu dengan Juz yang lainnya berbeda).
Cara ke-dua (tunning) ini juga memiliki kelemahan,sangat tergantung pada:
  1. Kondisi Fisik dan Non Fisik si Pembuka Juz.
  2. Intensitas Pembuka Juz dalam Membaca Al-Qur’an.
  3. Tingkat Sensitifitas( kepekaan metafisis).
  4. Pengalaman atau Jam terbang
  1. 3.       Parameter Akurasi Juz
Setelah melakukan tadarus secara tepat dan benar berkali-kali. Insya Allah bisa merasakan dan akhimya menangkap sinyal atau tanda. Lalu langkah berikutnya adalah menterjemahkan tanda atau sinyal tersebut berkaitan dengan karakter kita sendiri dengan memakai parameter berikut:
  1. a.        Surah-Surah Pada-Juz
Dari data empiris, didapatkan kesimpulan bahwa salah satu hikmah dibalik penamaan 8 penyusunan surah Al-Qur’an juga menggambarkan karakter manusia, kelebihan dan kelemahan baik fisik maupun non-fisik.
Diperlukan pendekatan tidak hanya verbal dalam mempresentasikan makna surah Al-Qur’an pada karakter manusia. Pendekatan yang dimaksud misalnya pendekatan isi surah, latar belakang historis, dan makna simbolik surah.
Contoh : Si A lahir tanggal 5 Jarruari 1978 yang ekivalen dengan 25 Muharram 1398 H, maka surahnya adalah Al-Maidah (surah ke-5) dan Al-Furqon (surah ke-29. Pada surah ke-5 Al-Maidah dengan total ayat 82. Artinya ia juga membawa sifat surah ke-82 Al-Anfithaar (“Terbelah”). Bila jumlah ayat lebih dari 114, maka dikurangi 114. Misalnya surah Ali lmran dengan jumlah ayat 200, pengaruh surah lain adalah 200 -114 = 86, yaitu surah Ath-Thoriq (Yang datang dimalam hari).
Tanggal 1 :  QS. Al-Fatihah, total ayat 7.
Al-Fatihah bukan merupakan surah yang pertama kali turun namun ditempatkan sebagai urutan pertama. Al-Fatihah juga disebut juga induknya Al-Qur’an. As-Sab’ul Matsaani (tujuh yang berulang-ulang) dan surah pertama yang turun secara lengkap.
Karakter : Menyukai hal baru, berbakat menjadi pemimpin, seorang pionir dan idealis. Biasarrya cenderung menginginkan segala sesuatu sempurna. Juga pandai memanfaatkan kesempatan. Ada kecenderungan egois, harus selalu prioritas utama, dan mengulang kesalahan yang sama. Orang yang belum mengenalnya akan mengira sebagai sosok yang angkuh dan sulit ditaklukan.
Kelemahan dan Kelebihan fisik: Kepala, paru-paru, dan pundak.
Tanggal 2 : QS. Al-Baqaroh, total ayat 286.
Sebagian besar isi ayat Al-Baqaroh berbicara hukum dan peraturan. Seperti pada umumnya sapi betina, jelas menghasilkan susu. Petani juga sering memanfaatkan tenaganya untuk membajak sawah atau menarik kereta.
Karakter : Pekerja keras, taat akan hukum dan aturan, memiliki jiwa sosial dan kepedulian tinggi, menyukai  hal-hal rutinitas. Jika dia mampu, ada kecenderungan jadi  dermawan. Biasanya kurang inisiartif, senang dimanfaatkan, dan gampang percaya pada orang lain.
Kelemahan dan Kelebihan fisik : Mata dan Bahu.
  1. b.        Struktur ‘Ain
Dalam urutan huruf Hijayah, huruf ‘Ain ( ﻉ ) menempati posisi 18, dan dalam kajian struktur Al-Qur’an hal ini merujuk pada jumlah baris yang ada pada jenis mushaf Rasm Ustmani yang menjadi kajian ini.
Selain itu kalau kita konversikan kedalam surah Al-Qur’an yang ke-18 adalah surah Al- Kahfi (Goa/misteri). Hal ini mengisyaratkan bahwa dibalik huruf ‘Ain terdapat sebuah misteri atau rahasia yang harus kita kaji dan fikirkan.
Bila huruf ‘AIn ( ﻉ) kita lafadzkan akan membentuk sebuah kalimat yang mempunyai makna yaitu  ﻋﻳﻦ yang artinya “Mata”. Mata merupakan salah satu organ tubuh yang sangat vital, berfungsi sebagai penangkap informasi awal sebelum diproses oleh otak.
Contoh mengartikan Tanda ‘Ain
‘Ain 1        : terdapat angka 1, 6, dan 17. Artinya segala rencana yang dia susun harus sesuai dengan aturan. Namun seringkali aturan itu menurut aturannya sendiri.
‘Ain 2          : terdapat angka 2 , 5, 18. Artinya dalam menangani segala yang menarik pandangannya bisa dibilang lumayan. Namun setelah dimulainya pekerjaan itu ia mulai bimbang dengan kemampuannya.
‘Ain 3 : terdapat angka 3, 11, dan 9. Artinya bila ia marah atau sinis maka ucapannya sangat menusuk hati / perasaan, tidak jarang akan timbul permasalahan setelah itu.
‘Ain 4     : terdapat angka 4, 4, dan 20. Artinya dalam menyusun sesuatu ia memperhatikan aturan yang ada. Bisa dibilang ia taat aturan. Kelemahan kerangka berfikimya mudah dibaca.
‘Ain 5     : terdapat angka 5, 9, dan 21. Artinya disamping mengalami kebimbangan dalam bekerja atau mengambil keputusan, ia terkadang menunggu mood (perasaan).
‘Ain 6     : terdapat angka 6,6, dan 22. Artinya baginya segala aturan  atau hukum yang dibuat harus sampai tujuan. Orientasinya selalu pada target.
‘Ain 7    : terdapat angka 7, 6, dan 23. Artinya dalam proses belajar dia akan mudah menyerap jika kita menyampaikannya seperti memberitahukan kepada anak kecil. Istilahnya gampang “nyantel”, terkadang bersikap seperti anak-anak.
Inilah cara termudah untuk membaca karakter Juz berdasarkan tanda’ Ain. Untuk tanda-tanda ‘Ain berikutnya silahkan anda sendiri yang menguraikannya dan mengartikan angka tersebut.
  1. a.        Huruf Kapital Awal Juz.
Setiap awal Juz, selalu yang bercetak huruf tebal. Contoh Juz 2, yaitu, ﺴﻳﻘﻭﻞtersebut diawali huruf ﺲ (huruf ke – 12 = ambisi, motivasi, alat vital) dan diakhir dengan ﻞ (huruf ke-23 = Kondisi tubuh atau fisik yang labil) artinya orang yang ber-Juz 2 seringkali sifat yang dominan padanya adalah : mempunyai kemauan, ambisi yang kuat untuk melakukan atau meraih sesuatu (disebut dominan karena huruf Sin (ﺲ) berada diurutan pertama, pemimpinlah yang tampak dominan bukan rakyatnya).
Kenapa kata yang tercetak tebal adalah , ﺴﻳﻘﻭﻞ “Sa-Yaquulu” ? Padahal kata tersebut kalau kita uraikan terdiri dari ﺲ (= akan, yang menjadi tanda atau ciri-ciri bahwa kata yang terletak sesudahnya adalah kata kerja) dan kata (= berkata, salah satu bentuk kata kerja dalam bahasa arab biasa dikenal dengan Fill mudhari’ yaitu kata kerja yang mengandung arti sedang atau akan datang), dan sudah menjadi keniscayaan dalam ilmu bahasa apapun bahwa setiap kata kerja memerlukan subjek (pelaku) yang melakukan pekerjaan tersebut, nah sekarang coba kita perhatikan lagi kata “Sa-Yaquulu”, dimanakah letak subjek-nya ?. Lengkapnya definisi kata ﺴﻳﻘﻭﻞ “Sa-Yaquulu” adalah sebagai berikut :
ﺲ   :   ambisi/motivasil/alat vital, artinya dalam menyikapi masalah tertentu, ia selalu mengandal emosionalnya, namun sangat ambisius dan memiliki motivasi tinggi dalam menyelesaikan apapun yang dikerjakannya. Dia mudah tertarik dengan lawan jenis yang menurutrya “indah” dipandang mata, dia tidak pandang bulu miskin, kaya, pintar, bodoh atau apapun.
ﻱ    :    inti manusia/kandungan, artinya baginya segala sesuatu yang dilakukan harus ada hasil yang berarti buatnya. Kecil kemungkinan dia melakukan hal-hal yang kaitannya dengan sosial, kecuali dengan orang terdekat.
ﻕ    :    kepala, artinya bahwa pada dasamya orang ber-Juz 2 ini keras kepala dan susah menerima nasihat orang lain. Berfikir logis adalah syarat mutlak baginya. Terkadang dia sering menafikan hal-hal yang susah dicerna oleh nalarnya.
ﻭ     :    modal/potensi/waktu, artinya bagi orang yang ber-Juz 2 melakukan segala sesuatu membutuhkan modal. Ia memiliki potensi yang terpendam, namun terkadang kurang percaya diri.
ﻞ      :  manusia atau bayi, artinya orang yang ber-Juz 2 ini memiliki kemanjaan psikologis, sehingga hidupnya selalu memerlukan kehadiran orang lain yang bersedia membantu atau melindunginya. Seperti seorang bayi yang ingin selalu dekat dengan ibunya, yang menyebabkan mejadi seorang yang cengeng.
  1. b.        Berdasarkan Halaman Juz
Contoh Juz 2.
Taktis : Berdasarkan jumlah ayat dari halaman 1 s/d 6 dari juz-nya. Dasar filosofinya adalah Ka’bah yang terdiri atas 6 bidang. Total ayat dari halaman 1 s/d 6 adalah 46, surah ke 46 adalah Al-Ahqaaf (Bukit Pasir). Artinya orang ber-Juz 2 ini pandai membawa diri. Mudah membawa suasana hati, maka suasana tersebut akan ia bawa kemanapun ia pergi.
Negatif-Posltif : Berdasarkan jumlah ayat dari halaman 7 s/d 13 dari juz-nya. Dasar filosofinya adalah titik sujud saat sholat. Total ayat dari halaman 7 s/d 13 adalah 46 (ternyata kebenaran sama dengan total ayat halaman 1 s/d 6). Inilah kelebihan Juz 2, dia mudah berubah atau tidak punya pendirian, namun itulah strategi adaptasi dia untuk menarik perhatian lawan atau kawan. Jadi jangan kaget jika suatu saat kitalah yang harus mengikuti kemauannya, tak ubahnya seperti ‘Quick Sand”, pasir penghisap.
Jalan Keluar : Berdasarkan jumlah ayat dari halaman 14 s/d 15 dari juz-nya. Dasar filosofinya adalah Hajar Aswad dan Pintu Ka’bah. Total ayat dari halaman 14 s/d 15 adalah 13, surah ke-13 adalah Ar-Ra’ad (Guruh/Petir). Dalam menyelesaikan masalahnya ia mengedepankan emosinya terlebih dahulu. Gaya bicaranya cenderung meledak-ledak, disitulah senjatanya untuk mempengaruhi seseorang.
Dasar : Berdasarkan jumlah ayat dari halaman 16, dasar filosofinya adalah bumi atau tanah. Jumlah ayat pada halaman 16 adalah 6, surah ke-6 adalah Al-An’aam (Binatang Ternak). Pada dasamya orang yang ber-Juz 2 tidak bisa mandiri, ia selalu membutuhkan orang lain di setiap saat, layaknya binatang temak yang selalu digiring peternak dan saat diberi makan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar